satu simpanan nggak cukup..
dua simpanan juga nggak cukup
emang dasar..emang dasar..
hey dasar kamu BAJINGAN..
…
aku takut ANJING..
dirumahnya banyak ANJING..
aku takut..
ANJING!!!
…
cuplikan dua lagu itu tentu sudah sangat sering kita dengar. Saya akui, lagu itu sangat easy listening alias “enak” didengar. Nggak heran, dua lagu itu banyak diminta pendengar radio atau penonton tv, dan masuk daftar atas deretan lagu favorit dalam beberapa minggu.
Tapi saya begitu kaget ketika dengar Eva, putri saya yang baru berumur 2,5 tahun, tahu-tahu nyanyi lagu “Anjing”nya YTH bersama teman2 sebayanya. Dasar anak-anak, yang paling jelas cuma “anjing”nya aja, dengan nada persis kayak penyanyinya, yang harus diakui bukan sekadar menunjuk ada binatang bernama anjing, tapi mengumpat!
Lebih kaget lagi ketika nonton acara musik di TV, saat Wali tampil dengan lagu “Bajingan”nya, meski sudah disensor, anak-anak kecil masih hafal, dan serempak teriak “Bajingan!”
Ya, mungkin itulah euphoria dari yang namanya kebebasan berekspresi. Tapi apa iya, kebebasan berekspresi harus meninggalkan sopan santun, etika, dan moral? Saya ingin bisa tanya sama si Doel Sumbang, apa anaknya dirumah sudah biasa mengumpat “anjing!”? Dan pingin tanya sama anak-anak Wali, kalo besok sudah punya anak, mau diajari ngumpat “Bajingan!” sejak dini?
Nggak berlebihan sepertinya, jika saya khawatir kalo hal ini dibiarkan, akan ada lagu lagi yang lebih parah dari dua lagu itu. Misalnya (maaf) menyebut alat kelamin dengan lugasnya, atau kata-kata menjijikkan lainnya seperti ngen**t! dan sejenisnya.
Tolonglah para pemegang kepentingan, jangan hancurkan lebih parah lagi bangsa ini dengan mengatas namakan kebebasan berekspresi. Bangsa ini sudah begitu hancur dan sedang mengalami masa jahiliyah..
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Tags: Wali, YTH
Jakarta 02:00 WIB
Dingin terasa begitu menusuk tulang. Sesekali kusibakkan selimut untuk membetulkan posisinya. Sambil kupeluk erat istriku, untuk membantuku melawan dinginnya malam.
Kudengar bunyi bip sekali, sebagai tanda tepat tengah malam. Masih lama..pikirku. Ya, aku ingat, aku harus bangun sangat lebih pagi hari itu, karena harus terbang jam 6 pagi.
Belum lama mata ini kembali terpejam, dan mimpiku mulai berjalan, aku sudah dikagetkan alarm hp-ku yang sengaja ku-stel jam 1 pagi. Gila, jam segini aku harus dah bangun..gumamku dalam hati. Meski berat, aku harus memaksa mataku terbuka. Kulihat,Eva, anakku yang baru berumur 2,5 tahun, masih berdamai dengan mimpinya dipelukan erat bundanya.
Kuambil nafas dalam,untuk mengumpulkan tenaga, dan bergegas mandi. 10 menit, sudah terlalu lama untuk berkutat dengan dinginnya air pagi buta itu. Keluar dari kamar mandi, kulihat istriku sudah menyiapkanku secangkir kopi panas. Sambil packing, kuminum sedikit demi sedikit kopi panas buatan istriku. Setelah semuanya siap, dan tak lupa kucium istri dan anakku, akupun menembus dinginnya pagi dengan sepeda motorku, menuju kantor yang berjarak sekitar 20 km. Ya, aku harus ke kantor terlebih dahulu mengambil peralatan liputanku, sebelum menuju ke bandara.
Jam menunjukkan jam 02.00 WIB. Sejauh itu aku berpikir aku memang hebat. Disaat yang lain tertidur pulas, aku sudah berangkat beraktivitas.
Tapi pikiran itu langsung sirna, ketika kulihat seorang anak di sudut gang dekat kantor kelurahan. Umurnya, aku yakin tidak lebih dari 12 tahun. Cahaya lampu merkuri, memperlihatkan wajahnya yang sudah kelelahan dengan bawaan karung berat di punggungnya. Ya, melihat bawaan di punggungnya itu, aku yakin anak pemulung itu bangun lebih awal dariku. Setidaknya, beraktivitas lebih awal dari aku.
Pikiranku itu makin hilang, ketika melihat kerumunan orang di pinggir jalan, sedang membagi koran. Ya, ditempat pembagian jatah koran dari agen itu, kulihat ada juga anak-anak, usianya sekitar 15 tahunan, ikut sibuk membagi koran. Tidak lama, dia beranjak pergi dari situ dengan membawa setumpuk koran. Di rompi biru yang dikenakannya, kubaca nama koran ternama. Terlintas dalam benakku, dia juga beraktivitas lebih dulu dariku.
Aku pun terbawa pada pencerahan yang kudapatkan pagi buta itu..
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Program busway sebagai solusi mengatasi kemacetan Jakarta, hingga kini masih sebatas slogan. Pelaksanaannya di lapangan, masih setengah hati.
Bagaimana tidak, petugas di lapangan baik polisi maupun dinas perhubungan, hingga kini masih saja tidak menindak tegas kendaraan pribadi yang masuk jalur busway. Akibatnya, busway yang mestinya bebas macet, ikut-ikutan terjebak macet karena jalurnya dipakai kendaraan pribadi. Jika hal ini terus terjadi, tujuan busway yang menelan dana triliunan itu tidak pernah akan terwujud.
Program busway, terkait erat dengan perubahan perilaku masyarakat. Karena masyarakat kita belum sepenuhnya mau mengerti, ketegasan penegakan aturan, dan keseriusan pelaksana busway perlu ditingkatkan.
Harus diakui, masih banyak pengguna mobil pribadi yang tidak mau pindah ke busway. Hasil survey menunjukkan, mereka enggan pindah ke busway, karena tidak mendapat kenyamanan seperti yang dijanjikan. Di antaranya, masih harus menunggu lama karena terbatasnya armada, penuh sesak di dalam bis, dan masih terkena macet di jalan. Disamping itu, antrean yang tidak tertib ketika masuk bus, juga menjadi keluhan.
Ada empat hal utama yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan busway.
Mulai dari menumbuhkan budaya antri ketika masuk bus misalnya. Tidak cukup dengan hanya menempelkan stiker “harap antri” di pintu halte busway. Akan lebih efektif jika dibuatkan pembatas layaknya antrian di bank. Jadi penumpang mau tidak mau akan masuk bus satu per satu. Ini saya temui ketika antri di salah satu terminal bus di Singapura, dan terbukti sangat efektif mengatur antrian.
Kedua, masalah penegakan aturan di jalur busway. Sudah ada aturan jelas mengenai penggunaan jalur busway. Hanya busway, ambulans, dan pemadam kebakaran yang boleh lewat jalur busway. Tapi sayangnya aturan itu baru ditegakkan di koridor satu, jurusan Blok M – Kota. Pertanyaan dengan tanda tanya besar, jika di koridor satu bisa, kenapa tidak di koridor lainnya?
Usaha penegakan aturan ini, memang sudah berulangkali dilakukan. Bahkan Dishub DKI Jakarta sempat membuat proyek portal busway di halte Kwitang. Tapi sepertinya proyek itu “tahi ayam” alias cuma hangat di depan saja. Belakangan tetap saja jalur busway belum bisa bersih dari kendaraan pribadi. Ternyata, selain mental masyarakat kita yang cuek sama aturan dan tak tahu malu, polisi dan dishub tidak berani tegas menindak, karena masih sering adanya dualisme keputusan. Dengan alasan mengurai kemacetan, polisi dengan seenaknya menyuruh pengendara masuk jalur busway. Ini sering terjadi di koridor enam, tepatnya di kawasan Buncit – Mampang. Kalau memang mau menegakkan aturan, kenapa mesti ada dekresi seperti itu? Biar saja jalur kendaraan pribadi macet, dan busway tetap lancar. Sehingga menarik pengendara mobil pribadi untuk beralih ke busway.
Ketiga, penambahan armada. Demi menjaga kelancaran layanan, penambahan armada mutlak diperlukan. Pasalnya, jumlah armada di tiap koridor saat ini, masih jauh dari jumlah ideal yang dibutuhkan. Saat ini, rata-rata busway membutuhkan dua jam untuk menempuh satu putaran. Akibatnya, penumpang harus menunggu lama dan berdesakan di dalam busway.
Keempat, masyarakat sendiri harus menghilangkan sinisme terhadap busway. Selama ini banyak warga yang menghujat busway sebagai biang kemacetan. Apakah tanpa busway, kemacetan itu akan hilang? Jika kita tanya kepada warga pengguna mobil pribadi tentang busway, sebagian besar jawaban mereka akan kontra terhadap busway. Karena busway telah menyebabkan jalan mereka tambah sempit. Tapi pernahkah para pemilik mobil pribadi itu memikirkan warga lain yang juga butuh transportasi? Tidak bisa dipungkiri, dan jika kita mau berbesar hati, manfaat busway bagi masyarakat sebenarnya besar. Mulai dari penghematan, mengatasi kemacetan, lebih cepat, tidak capek dijalan, dan masih banyak manfaat lainnya. Jika saja pelaksanaannya tidak setengah hati, saya yakin busway bisa jadi andalan transportasi Jakarta. Semoga..
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Tags: Busway
Jika anda melintas jalan Kebagusan Raya (belakang kebun binatang Ragunan) arah ke Jagakarsa Jakarta Selatan, di sebelah kanan jalan, anda akan ketemu dengan gunung sampah. Saya menyebutnya gunung sampah, karena tidak beda jauh dengan TPA (tempat pembuangan akhir) sampah di Bantar Gebang, Bekasi. Padahal, lahan kosong yang terletak di RT 13 RW 5 Jagakarsa, Jakarta Selatan seluas lebih dari 6000 m2 itu, tadinya berupa empang dan kebun yang hijau dan asri.
Keberadaan gunung sampah, tentu saja meresahkan warga sekitarnya. Halimah yang rumahnya tepat di samping gunung sampah mengeluhkan bau tidak sedap yang menyengat, serta banyaknya lalat hijau yang masuk ke rumahnya.
“baunya tuh mas, kalo pagi nyengat banget..mana banyak lalat hijau yang masuk rumah saya lagi..” ucapnya emosi.
Hal senada juga dikeluhkan warga lain yang saya temui. Menurut mereka, keluhan bahkan protes pernah disampaikan kepada pemilik lahan, sejak awal penimbunan sampah dimulai, Desember 2008 lalu. Tapi nyatanya, hingga sampah menggunung, keluhan dan protes warga tidak digubris.
niat menimbun empang
Masalah gunung sampah yang meresahkan warga Jagakarsa ini, bermula dari niat pemilik lahan, yaitu keluarga Haji Mamat, tokoh masyarakat setempat, yang ingin menimbun dan meratakan lahan empangnya. Aris bin Mamat, wakil keluarga mengatakan, empangnya seluas lebih dari 6000 m2 itu memang akan diratakan. Sampah ratusan truk yang konon asalnya dari Pasar Minggu itu, hanyalah sebagai dasar. Nantinya, akan ditimbun lagi dengan tanah merah.
“kalo tanah semua tuh mahal mas,bisa 400 ribu satu truknya..kalo sampah kan gratis..”ujarnya tanpa rasa bersalah.
Entah apa dasar pemikiran Aris bin Mamat, menimbun lahannya dengan sampah. Terlepas itu haknya sebagai pemilik lahan, setahu saya hal itu tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun juga, sampah itu adalah limbah yang bisa merusak lingkungan. Dari pengamatan saya di lokasi, hampir semua pohon yang tertimbun sampah, meranggas! Belum lagi selokan yang berada tepat dibelakang timbunan sampah, ikut tersumbat dan tertutup sampah. Sampah juga akan mencemari air tanah di sekitarnya.
Anehnya, meski gunung sampah sudah meresahkan warga sejak Desember 2008 lalu, pihak kelurahan Jagakarsa seolah tutup mata dan cuek. Dwi Basuki, Lurah Jagakarsa yang saya temui mengatakan, pihaknya juga pernah menegur pemilik lahan. Tapi karena kewenangannya terbatas, pihaknya tidak bisa berbuat banyak.
“kewenangan kami terbatas mas..yang penting sekarang kan tidak ada keluhan warga..”ujarnya sedikit gugup.
Tidak ada keluhan warga, atau memang tidak mau mendengarkan keluhan warga??
Sepertinya kalau mau terjun langsung ke lokasi, Pak Lurah Jagakarsa yang “glagepan” saya temui itu bisa menemukan keluhan warga dengan mudahnya..
Setali tiga uang, pihak kecamatan Jagakarsa juga demikian. Buru-buru menutup diri, ketika tahu saya akan menanyakan masalah gunung sampah. Dengan alasan masih sibuk, Camat Jagakarsa, Beryansyah tidak mau menemui saya. Saya hanya berhadapan dengan Sekretaris Camat, Agus Fadil yang mengatakan tidak tau menahu masalah gunung sampah, karena masih baru satu bulan menjabat. Jawaban yang sangat tidak memuaskan dari pelayan masyarakat.
Kalau memang tidak tahu apa-apa, kenapa bisa menjabat di situ, Pak?? Kami ngga’ butuh pejabat yang ga tahu apa-apa!!
Memprihatinkan..
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Setelah tertunda beberapa kali, busway koridor 8 jurusan Lebak Bulus – Harmoni, akhirnya diresmikan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Sabtu (21/01/09) kemarin.
Untuk sementara waktu, akan ada 25 bus yang beroperasi pada koridor ini. Semuanya adalah unit bantuan dari koridor 4 hingga 7. Terbatasnya armada ini membuat layanan di koridor 8 belum optimal. Bus yang mestinya melayani hingga halte Harmoni, hanya akan menempuh rute Lebak Bulus, Pondok Indah, Permata Hijau, Kebon Jeruk, Kedoya, Daan Mogot, dan memutar balik di kolong flyover Tomang Grogol. Penumpang jurusan Harmoni, harus transit ke busway koridor 2 (Kalideres Harmoni) di halte Grogol.
Masyarakat yang sudah lama menginginkan transportasi massal yang murah, nyaman, dan cepat, menyambut gembira pengoperasian busway koridor ini.
“Seneng..kemana-mana jadi cepet, dan murah..Nggak perlu ganti-ganti angkot..” ungkap Anna warga Pasar Jum’at Jakarta Selatan.
“yang jelas mau kemana-mana enak, Mas..murah lagi..” ungkap Iik, mahasiswi yang juga merasa diuntungkan dengan operasinya busway.
Namun sayang, harapan itu sepertinya masih harus menemui kendala. Busway koridor VIII ini, dipastikan akan menemui sejumlah titik kemacetan. Mulai dari keluar terminal Lebak Bulus, pertigaan Pondok Pinang, bundaran Pondok Indah, underpass Kebayoran Lama, dan Simprug, dan di tiap titik putaran sepanjang jalan Arteri Pondok Indah, kebon Jeruk, Kedoya, dan Daan Mogot.
Parahnya lagi, masih banyak pengguna jalan yang nekat menyerobot jalur busway, berlagak raja jalanan yang tidak tahu aturan. Wajar jika sebagian masyarakat pesimis, misi busway mengurangi kemacetan bisa terwujud.
Sebagai masyarakat biasa, saya sendiri menyambut baik ide cemerlang busway. Namun saya melihat pelaksanaan di lapangan saja yang kurang sempurna.
Petugas mestinya harus menindak tegas pengguna jalan yang menyerobot jalur busway. Sudah ada aturan tegas tentang hal itu. Namun penegakannya, terkesan hanya setengah-setengah. Lihat saja di sejumlah koridor yang masih banyak terjadi dekresi (pengambilan keputusan karena sikon di lapangan). Ketika macet parah dan tak terbendung, petugas lalu lintas (biasanya polisi) justru memerintahkan kendaraan masuk jalur busway. Akibatnya, busway jadi ikutan macet dan tidak tepat waktu.
Masalah lain adalah peningkatan mutu pelayanan yang masih lamban. Antrean penumpang pada jam masuk dan pulang kerja, sudah terjadi sejak awal busway koridor 1 dibuka tahun 2004 dulu. Mestinya, hal itu diantisipasi pada pembukaan koridor-koridor yang lain. Mungkin bisa dengan penambahan armada, atau pengaturan antrean yang lebih rapi. Tapi melihat kenyataan hingga sekarang, pengelola sepertinya tidak mau tahu hal itu.
Akibatnya bisa ditebak. Orang-orang yang sudah memiliki kendaraan pribadi enggan berpindah ke busway. Mending macet-macetan tapi nyaman, dari pada pindah ke busway. Udah desak-desakan kayak ikan dipindang, ikutan macet, jadwal tidak teratur pula..
Saya sih optimis, kalo peningkatan mutu pelayanan busway bisa terwujud dengan maksimal, masyarakat pasti banyak yang memilih busway..
Filed under: Bebas Bicara | 2 Comments
Imlek, Imlek, Imlek lagi..
Ya..tahun baru Imlek 2560 telah tiba. Masyarakat Tionghoa merayakan pergantian tahun barunya dengan berbagai cara. Ada yang sembahyang semalaman di klenteng, pesta bersama keluarga besar baik di rumah ataupun di restoran mewah, hingga pesta kembang api yang meriah.
Rumah dan perkampungan warga Tionghoa berhias. Lampion-lampion menyala, memerahkan setiap gang pecinan, yang semerbak aroma hio. Berbagai tempat hiburan, dari mall sampai restoran, dari hotel sampai obyek wisata, tidak ketinggalan menyambut Imlek. Bukan hanya sekadar menghias diri dengan asesoris ala Imlek yang merah meriah, tapi juga menyuguhkan berbagai hiburan bertema Imlek. Suatu hal yang “katanya” sulit dilakukan pada masa orde baru.
Tidak dipungkiri, budaya Tionghoa memang ikut mempengaruhi budaya nusantara, selain budaya Arab, India, dan Eropa, sejak zaman kerajaan dulu. Tidak dipungkiri, di setiap wilayah negeri ini, banyak warga keturunan Tionghoa bermukim. Jadi sudah sepantasnya jika menganggap mereka (orang-orang keturunan Tionghoa) memang bagian dari Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan pemikiran diatas dan dengan mengusung tema anti diskriminasi, pada tahun 1999, Gus Dur sebagai Presiden “terpilih” menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional, dan “mengizinkan” kembali perayaan Imlek. Sejak itulah perayaan Imlek “kembali” meriah seperti di negara asalnya.
Media massa di Indonesia pun, mengambil perannya, “memasyarakatkan” Imlek. Tapi peran itu kini berubah menjadi meng-imlek-kan masyarakat. Bagaimana tidak, jauh hari menjelang Imlek, isi pemberitaan berbagai media massa sudah menyinggung tentang Imlek. Semakin dekat dengan Imlek, semakin ramai pemberitaannya. Bahkan hal-hal yang (sebenarnya) tidak penting, ikut muncul sebagai berita di media massa. Jika alasannya hiburan dan pendidikan karena mengandung nilai budaya, ok saja. Tapi mengapa tidak demikian ketika memberitakan tentang budaya negeri sendiri?
Kita semua tahu, selain tahun baru Imlek, kita juga punya tahun baru Islam, dan tahun baru Jawa (kebetulan jatuhnya selalu sama) yang juga menjadi hari libur nasional. Tahun baru Islam, berasal dari Arab. Memang tidak ada perayaan meriah seperti Imlek atau Kabisat. Paling-paling hanya pengajian yang bagi sebagian media massa dianggap tidak penting. Sedangkan tahun baru Jawa, biasanya ada ritual atau upacara yang sarat nilai budaya. Beberapa pihak yang konsen terhadap lestarinya budaya sendiri, tetap eksis mempertahankan ritual peringatan, yang sebenarnya juga menarik untuk dijadikan komoditi berita. Tapi entah mengapa, media massa seperti tidak semangat memberitakan ritual dan peringatan tahun baru Jawa. Tidak seheboh memberitakan Imlek.
Wajar jika sebagian masyarakat khawatir, tidak akan lagi ada ondel-ondel, tidak ada lagi jaranan, tidak ada lagi reog ponorogo. Yang ada tinggal barongsai dan liong asal Tionghoa.
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Selasa 20 Januari 2009, Barack Obama dan Joe Biden, resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden ke-44 Amerika Serikat. Barack Obama terpilih sebagai Presiden negara adikuasa itu setelah menang atas rivalnya John McCain, pada pemilihan Presiden Amerika Oktober 2008.
Kemenangan Obama, disambut sangat antusias oleh dunia, termasuk Indonesia. Bahkan saya pun pernah terimbas antusiasme itu, ketika ditugasi liputan “syukuran” kemenangan Obama di SD 01 Menteng, bekas sekolah Obama ketika tinggal di Indonesia. Kebanggaan SD 01 Menteng karena bekas muridnya jadi Presiden Amerika, jelas terlihat. Karangan bunga dan poster Obama, menghiasi teras sekolah. Bukan hanya itu, murid-murid pun rela meninggalkan pelajaran, untuk beraksi mengekspresikan kegembiraan. Padahal ketika ditanya tentang aksinya itu, murid-murid dengan polosnya mengatakan disuruh oleh pak guru, karena mau diliput TV. Berlebihan memang..tapi ya itulah latahnya orang Indonesia. Tapi latahnya orang Indonesia, belum seberapa dibanding latahnya media massa di Indonesia. Bisa dibilang, media massa lah yang paling andil. Salah satu contohnya, ya liputan syukuran kemenangan Obama di SD 01 Menteng itu. Bayangkan, hampir semua stasiun TV nasional, liputan di situ, belum lagi media massa lainnya. Lucunya lagi, sampai ada yang menanyakan harapan anak-anak kepada Obama, setelah terpilih jadi Presiden. Lha wong waktu hasil pilpres negeri sendiri saja tidak segitunya lho..
Sambutan atas kemenangan Obama, lebih jelas terlihat pada hari pelantikannya Selasa 20 Januari 2009. Seluruh channel TV menyiarkan langsung pelantikan pria keturunan Afrika Amerika menjadi Presiden AS pertama berkulit hitam. Diperkirakan sekitar 4 juta orang berkumpul di sekitar Gedung Putih Washington DC, AS, untuk menyaksikan langsung pengambilan sumpah dan pidato pertama Obama.
Menariknya dari acara itu, nampak hadir mantan-mantan Presiden AS, seperti George Bush senior, Bill Clinton, dan George W Bush. Mereka begitu terhormat memasuki panggung VIP, dengan sambutan tepuk tangan rakyat Amerika. Mereka terlihat bangga dengan generasi penerusnya. Bukan hanya itu, McCain yang menjadi rival Obama pun juga nampak hadir mengikuti pelantikan Obama, setelah malam sebelumnya, makan malam bersama Obama. Sebuah pertunjukkan di panggung demokrasi yang begitu indah dan sangat menawan, mengingat sengitnya pertarungan mereka pada saat pilpres Amerika.
Kontras sekali jika dibandingkan dengan di negeri kita tercinta Indonesia. Jangankan hadir di pelantikan Presiden terpilih. Mengucapkan selamatpun mungkin tidak. Malah dari awal sudah menyatakan oposisi..Lebih parah lagi, di undang untuk upacara negara HUT RI di Istana Negara, para mantan Presiden juga tidak datang. Malah mengadakan upacara sendiri di halaman rumah. Lha bagaimana mau maju negeri kita, kalau pemimpinnya saja tidak punya jiwa nasionalis? Untuk hal ini, demokrasi di Amerika bisa kita jadikan contoh. Bagaimana perbedaan pendapat, dan kepentingan kelompok tidak mengalahkan jiwa nasionalisme mereka. Bagaimanapun, kebebasan berpendapat tetap harus teratur, dan tidak boleh mengesampingkan rasa nasionalis,patriotis kita untuk negeri tercinta.
Pidato pertama Obama yang mengecewakan
Setelah sempat demam panggung saat membaca sumpah, Obama memberikan pidato pertamanya. Mata dunia tertuju pada pidato pertama Obama.
Mengecewakan. Itulah komentar para cendikiawan di Indonesia ketika ditanya tentang pidato Obama. Lebih halus mereka mengatakan tidak sesuai yang diharapkan selama ini.
Dunia menyambut Obama dengan harapan akan membawa perubahan lebih baik kepada dunia internasional melalui kepemimpinannya. Lebih baik dari pendahulunya Goerge Bush yang membawa peperangan dimana-mana. Dunia berharap, Obama bisa memberi pencerahan pada perdamaian Israel Palestina yang masih panas, serta perbaikan ekonomi global. Namun di pidato pertamanya, Obama sama sekali tidak menyinggung konflik Gaza. Hanya ada kalimat-kalimat normatif yang menyebutkan perdamaian dengan semua bangsa dan agama di dunia. Tentang krisis global, Obama berjanji akan lebih memperhatikan negara-negara miskin dan berkembang, tanpa merinci lebih jelas. Obama lebih banyak berbicara tentang semangat nasionalisme bangsanya, dan menumbuhkan rasa optimis rakyat Amerika menghadapi krisis ekonomi yang sedang terjadi. Tidak ada yang spesial dari pidato seorang Presiden Amerika Serikat. Biasa-biasa saja, dan tidak membuat dunia terpana.
Wajar jika banyak yang kecewa dengan pidato Obama. Kalau orang Jawa bilang, ra sumbut karo le dibombong..(tidak sesuai dengan pujian terhadapnya). Disambut dengan euphoria dimana-mana, ternyata cuma bisa bilang kayak gitu.
Dengan tidak menyinggung konflik Gaza, patut ditanyakan perhatian Obama terhadap perdamaian dunia, khususnya Israel Palestina. Padahal dunia internasional sudah terlanjur berharap banyak, Obama akan menyinggung konflik Gaza pada pidato pertamanya, lalu menindaklanjutinya dalam bentuk nyata.
Harapan itu belum terjawab pada pidato pertama Obama..Masih optimis dengan Obama? Kita lihat saja..
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Kebakaran di depo Pertamina Plumpang Jakarta Utara, akhirnya berhasil dipadamkan Senin (19/01) sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah lebih dari 50 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api. Namun demikian, petugas penyelidik belum berani memasuki area kebakaran karena masih panas.
Kebakaran di tangki 24 yang berisi 5000 kiloliter premium itu, terjadi Minggu (18/01) jam 21.00 WIB. Api yang semakin membesr, dan tak kunjung padam, membuat warga sekitar TKP panik dan mengungsi, guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Masyarakat Jakarta juga ikut panik, dan menyerbu SPBU, khawatir BBM akan langka pasca kebakaran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yosgiantoro menegaskan, tidak akan terjadi kelangkaan BBM akibat kebakaran di Plumpang. Selain pasokan masih memadai, pihaknya melalui Pertamina akan mengerahkan bantuan depo Merak dan Bandung, guna memasok BBM di Jakarta.
Isu di balik kebakaran
Isu teror di balik kebakaran depo Plumpang menguat. Dikaitkan dengan kelompok teroris yang ditangkap beberapa waktu lalu, yang disebut kelompok Plumpang. Meski belum ada gerakan apa-apa, kelompok ini diyakini akan meledakkan depo Pertamina Plumpang. Menguatkan isu ini, beberapa saksi menuturkan, mendengar suara ledakan sebelum kebakaran terjadi.
Isu adanya sabotase terkait dengan pemilu 2009. Kebakaran di depo Plumpang, langsung ataupun tidak, sedikit ataupun banyak akan mengganggu aktivitas di gudang pasokan BBM Jakarta. Akibat yang diharapkan oleh pelaku sabotase, akan terjadi kelangkaan BBM di Jakarta, yang berbuntut pada kekecewaan pada pemerintahan sekarang. Isu yang ini, bisa juga dikaitkan dengan ketidak puasan dengan kepemimpinan Ari Soemarno sebagai Dirut Pertamina, yang tetap bertahan dengan goncangan isu kelangkaan BBM beberapa hari kemarin.
Di samping isu teror dan sabotase, dugaan murni kecelakaan juga menguat. Kecelakaan yang dimaksud, yaitu konsleting listrik yang menyambar sisa premium di sekitar tangki yang masih menetes. Ada juga kemungkinan terjadi kebocoran di bagian tangki, yang tidak diketahui oleh petugas kontrol. Lalu tetesan premium dari bagian yang bocor tersambar sumber api.
Saat ini polisi tengah memeriksa sejumlah saksi, diantaranya 7 pekerja yang berada di lokasi saat kejadian. Semoga saja polisi dan tim yang ditunjuk untuk menyelidiki kasus ini, segera menemukan jawabannya.
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Kebakaran melanda depo Pertamina di Plumpang Jakarta Utara, Minggu 18 Januari 2009, sekitar pukul 9 malam. Dengan cepat, api membumbung dan membakar tangki nomer 24 yang berisi 5000 kilo liter premium, hingga mengakibatkan ledakan besar, yang terdengar hingga radius lima kilometer,
Belum diketahui pasti penyebab kebakaran. Sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi kejadian menuturkan, terdengar ledakan keras sebelum kebakaran. Namun belum bisa dipastikan, asal ledakan itu.
Hingga jam 12 malam, api belum bisa dikuasai. Padahal sudah lebih dari 40 mobil damkar termasuk pemadam dari Pertamina berjibaku menjinakkannya. Selain konsentrasi pada tangki 24 yang terbakar, petugas damkar juga berupaya melokalisir api, agar tidak menyambar tangki lain dan pemukiman warga. Warga di sekitar TKP, kini diungsikan, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Humas Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira mengatakan pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab kejadian, ketika ditanya tentang dugaan sabotase. Saat ini, polisi masih meminta keterangan sejumlah saksi mata, tapi belum bisa menyelidiki TKP karena api belum padam.
Menyusul kebakaran besar di gudang pasokan BBM DKI Jakarta ini, pasokan BBM khususnya premium terancam terganggu. Bagaimana tidak, hingga saat ini (Senin 19 Januari 2009 jam 00.15 WIB) premium yang terbakar diduga sudah mencapai 5000 kilo liter.
Anang Riskani Noor, Vice President Communication Pertamina mengatakan, kebakaran tidak akan mengganggu pasokan premium Jakarta. Selain pasokan mencukupi, pihaknya juga akan mengerahkan cadangan premium dari depo Merak.
Tapi, tanpa kebakaran pun, premium sempat langka di Jakarta beberapa hari kemarin. Apalagi sekarang, setelah deponya terbakar..Semoga saja Pertamina bisa mengatasinya..Amin..
Filed under: Bebas Bicara | Leave a Comment
Cari
-
Blogroll
Entri Terkini
- Band Wali dan YTH harus bertanggung jawab!
- Jakarta 02:00 WIB
- Busway..kenapa masih setengah hati?
- Kontroversi Buddha Bar
- Gunung sampah di Jagakarsa resahkan warga
- Busway Lebak Bulus – Harmoni akhirnya diresmikan
- Imlek, Imlek, Imlek lagi..
- Pelantikan Obama, demokrasi, dan harapan dunia
- Kebakaran di depo Pertamina Plumpang, kecelakaan atau sabotase?
- Depo Pertamina Plumpang terbakar, ancam pasokan BBM di Jakarta
- Gencatan senjata di Gaza, harapan dan kenyataan
Kategori
- Bebas Bicara (19)