Cerita Tukang Ojek
Hari menjelang sore. Tapi panas masih sangat terasa. Apalagi ditengah hiruk pikuk di terminal Pasar Minggu, yang tak pernah sepi.
Hilir mudik angkutan umum, ojek dan para pedagang, tak henti didepanku. Tak terasa hampir satu jam sudah aku menunggu bis Damri bandara yang mengantar istriku. Sambil terus menikmati nafas kehidupan keras yang terbangun di kawasan tempatku menunggu.
Tak lama kemudian, bis yang kutunggu datang juga. Dibuntuti belasan tukang ojek yang berebut penumpang. Dan tiba-tiba, salah satu tukang ojek, mengumpat pada tukang ojek lainnya.
Terjadilah perang mulut cukup seru antar keduanya. Hingga salah satunya, turun dari sepeda motornya, dan memulai perkelahian.
Aku yang sedikit kaget dengan apa yang terjadi, tak berbuat banyak. Hanya bisa melihat perkelahian tak imbang itu, yang mulai dipisah tukang ojek lain.
Hingga para penumpang habis, perkelahian itu masih berlangsung. Umpatan kasar, masih terus keluar dari mereka.
Bukan masalah besar yang memicu selisih itu. Hanya rebutan penumpang, yang kalo misalnya dapat, mungkin nilainya hanya berkisar di 20 ribuan saja. Bukan jumlah yang banyak. Tapi menjadikan pemicu emosi di sore hari, di bulan puasa ini.
Bagaimana jika nilainya jutaan, milyaran atau triliunan? Ya, urusan duit memang kadang menjadikan kita tak mau tahu lagi tentang sesama, nilai sosial, setia kawan, bahkan keluarga. Kawan bisa jadi lawan, lawan pun bisa jadi kawan.
Tapi haruskah itu terjadi, jika kita tahu hak dan kewajiban kita? Jika kita tahu rejeki kita sudah ada yang mengatur? Kadang kita memang terlalu tamak untuk mengerti itu..
