Mencuri Kotak Amal
Gara-gara mencuri kotak amal Mushola Nurul Jannah yang terletak di Rt 13/ Rw 005, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Suwarsid (30) dihajar dan diarak bugil oleh warga. Warsid mengaku mencuri kotak amal untuk makan, karena usaha dagang jamunya sedang sepi. (sumber: detikcom. http://bit.ly/pStnjB)
Kasus Warsid ini jelas bukan yang pertama kali terjadi. Sudah tak terhitung Warsid-Warsid yang lain. Mencuri – Tertangkap – Ditelanjangi – Dihajar Massa. Bahkan banyak juga yang lebih sial dari Warsid – harus meregang nyawa.
Saat membaca berita ini, awalnya saya menganggap sama saja dengan kasus kriminal pencurian lainnya. Tapi lebih lanjut saya membaca komentar para pembaca, ternyata ada yang jauh lebih menarik.
Sebagian besar komentator mengatakan si Warsid harus dikasihani. Sebagai contoh:
Yosafat Susiadi : “Kita semakin kehilangan moral sbg sesama manusia apalagi skrg dibulan yg suci ini , Warsid jg manusia dlm keadaan ekonomi yg sulit apalagi dekat lebaran gak ada uang,apagak kalut pikiran ini ? ada anak istri yg perlu uang utk lebaran . Tolong pikir itu jgn hanya emosi saja , dihakimi , ditelanjangi . Apakah itu bukan menelanjangi moral anda sendiri ?”
Budi Sahrul: “Saya yakin kalau saja dia punya pekerjaan…tak mungkin melakukan pencurian. ini pelajaran buat bos-bos di pemerintahan kalian pada korupsi milyaran bahkan triliyunan tak sampai bonyok kaya gini…lihat orang ini belum sempat menikmati hasilnya sudah bonyok duluan semoga orang ini mendapatkan hikmah di balik semua ini jagn mencuri lagi ya mas….berusaha tegar walau pahit rasanya…”
Doy Khairuddin: kasian banget
cuma maling kotak amal aja udah di gebuki kaya gt… koruptor malah ga pernah di gebuki sampe bedarah gt,,, ga adil !!!1 seharusnya koruptor yg di gituin !!!!!!!!!!!!!!
Bobby Prasetyo: ya allah, pak warsid memang telah salah.tapi di bulan yg suci ini apa harus begitu memperlakukannya. 
odjoss: hei polisi kancut…..lo berani ndak nginjak-injak para koruptor???….warsid berbuat begitu juga krn ulah para koruptor….hidup susah krn dana utk kesejahteraan rakyat telah diembat para koruptor
Bagaimanapun juga mencuri adalah haram. Sedikit banyak yang dicuri, hukumnya tetap haram. Itulah nilai yang ada di masyarakat.
Tapi ternyata, nilai itu bergeser. Tanggapan dan pemikiran seseorang bisa berubah karena kondisi dan keadaan tertentu. Dalam kasus ini, Warsid dibandingkan dengan para koruptor yang mencuri milyaran rupiah uang rakyat, tapi justru diperlakukan layaknya raja. Dengan adanya para koruptor yang mencuri lebih besar – dan justru diperlakukan layaknya raja-, kasus Warsid jadi dianggap bisa ditoleransi. Dengan anggapan yang dicuri tidaklah seberapa.
Mengutip kata Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil-kecil dan mulai dari sekarang. Jika mulai dari yang kecil-kecil kita sudah beri toleransi, menurut saya artinya sama saja kita membiarkan perbuatan haram itu terjadi, dan tinggal tunggu waktu besarnya saja.
Kadang pemikiran itulah yang dipakai para lawyer koruptor untuk melindungi klien-nya. Dengan alasan, yang dikorupsi hanyalah sedikit, maka bolehlah klien nya dibebaskan dengan syarat. Dengan alasan kliennya tidak melakukan sendiri, maka sebelum yang lain tertangkap, bolehlah klien nya jalan-jalan dulu. Dengan alasan klien-nya sakit, bolehlah hukumnya ringan.
Apakah itu yang kita inginkan?
